just share with you......welcom to my think..........^_^

thanks for your leasure to read my think.....................

Kamis, 24 Maret 2011

SEKEDAR MENUMBUHKAN IDALISME , APA ITU CIRI PENDIDIKAN FORMAL DI INDONESIA?

Tak sedikit permasalahan yang melanda di Negara Indonesia mulai dari masalah social hingga masalah ekonomi yang cenderung diakibatkan oleh human eror dalam artian kesengajaaan akibat dari rusaknya moral manusia diberbagai lini kehidupan yang mengakibatkan dampak sistemik. Kehancuran tersebut tidak hanya terjadi di sebagaian aspek kehidupan melainkan melanda hampir semua aspek kehidupan dari lingkup terkecil hingga lingkup terbesar dalam bernegara. Kondisi yang seolah semakin terpuruk dan mendekati kehancuran ini semakin ditambah dengan munculnya masalah – masalah klasik yang seharusnya tidak perlu terjadi seperti kerusuhan yang bernuansa SARA, masalah polotik dikalangan politikus dan petinggi pemerintahan yang seolah mnganggap kemenangan dalam pilkada lebih penting dari segalanya hingga mengabaikan kepentingan rakyat. Permaslahan yang semakin meluas itu seolah tidak dibarengi dengan penyelesaian yang tepat bahkan seolah hanya dijadikan adu argument untuk unjuk gigi yang sebenarnya didalamnya terjadi suatu pengkondisian.

Melihat kadaan seperti itu banyak manusia yang mengkritisi serta peduli lewat setiap tindakannya tidak terkecuali lingkungan pendidikan di Indonesia. Namun terkhusus dalam lingkup pembelajaran ilmu sosial dan politik dalam proses transfer ilmu sering kali sekedar menumbuhkan pemikiran ideal tentang kondisi negara namun tidak menawarkan dan memberikan solusi baru yang real. Selama ini seringkali dalam pembelajaran memang menunjukan realita permasalahan dan mengkritisi hal – hal yang salah bahkan tak jarang dapat berakibat menumbuhkan rasa benci terhadap kondisi dan negara ini karena kebobrokannya. Seperti contoh masalah tentang pembangunan dan rehabilitas gedung DPR/MPR dengan anggaran yang boleh dikatakan berlebihan, masalah tentang kong – kalikong di dunia pemerintahan mulai dari penganggaran, kebobrokan kinerja PNS, masalah peneriamaan CPNS yang tidak beres yang telah menjadi rahasia umum, dan masih banyak masalah boborok lainnya yang terjadi di negara ini. Melihat itu semua banyak orang mengkritisi masalah tersebut dan menggembor – gemborkan melalui berbagai media bahwa hal tersebut adalah biadab. Kritikan tersebut tidaklah salah, pada intinya Menentang , mengkritik, bahakan menolak, itu sangatlah lumrah di ranah demokrasi dan reformasi, namun apa artinya jika penentangan , kritikan, dan penolakan itu hanya sekedar penolakan tapi tidak memberi solusi yang real. Hal yang sama terkadang terjadi dalam proses pembelajaran formal bahwa Ketika didalam kelas mendikusikan permasalahan pasti hasil yang didapat ialah hasil yang bersifat ideal normatif artinya pemikiran yang dihasilkan merupakan jawaban tentang bagaimana kondisi yang seharusnya terjadi namun tidak mengkorelasikan dengan kenyataan yang ada. Misal saja kita ambil salah satu masalah diatas tentang penolakan rakyat terhadap rehabilitas gedung DPR/MPR , jika dalam kelas mendiskusikan masalah tersebut , jawaban yang didapat kurang lebih ialah “ pada intinya rehabilitas tidak perlu dilakukan karena masih banyak masalah yang jauh lebih penting dari sekedar pembahauran gedung”, kemudian dengan cara bagaaimana menolaknya?tentu saja dengan membatalkan pengajuan anggaran dan menolak permohona perbaikan tersebut. Kalau jawaban itu yang di dapat sebenarnya itu hanya jawaban ideal normatif yang menyatakan bagaimana kondisi yang seharusnya terjadi, namun tidak memeberi solusi yang tepat untuk menggagalkan rehabilitas tersebut. Kalau jawabannya seperti diatas, saya yakin lebih dari seribu dari 200 juta lebih pendududk Indonesia memiliki pemikiran yang sama tentang pembatalan tersebut, namun pada kenyataanya pemikiran tersebut hanya sekedar penolakan dan alhasil rehabilitas tetap terjadi. Jadi pada intinya hal yang dibutuhkan seharusnya bukan triakan penolakan saja melainkan bagaimana upaya yang tepat untuk menggagalkan rehabilitas tersebut. Hal yang seperti ini yang jarang saya temukan dalam situasi pendidikan formal di Indonesia. Itu baru satu masalah yang dibahas, bagaimana dengan pembahasan masalah yang lain seperti masalah pilkada, korupsi, kemiskinan , dan masih banyak yang lain?pembahasan masalah yang lainpun di jawab dengan jawaban yang ideal normatif tanpa mengkorelasikan dengan realita. Jadi sebaiknya kaum pengenyam pendidikan formal yang merupakan cikal bakal kaum cendikiawan muda harus memikirkan kondisi dan terobosan baru untuk menyikapi permasalahan bangsa yang terjadi, biarlah rakyat diluar sana yang berteriak dan kita berjuang mewujudkan teriakan tersebut lewat solusi dan terobosan baru yang real yang membuahkan hasil. Pada intinya mengetahui dan memahami tentang kondisi yang ideal normatif sangatlah perlu sebagai kaum intelektual namun penciptaan dan perilaku real sangat dibuthkan untuk mewujudkan kondisi yang mengarah ke ideal normatif. Saya berharap para tim pengajar mampu memberi terobosan baru dan tidak sekedar menumbuhkan idealisme semata.



By bast,see_ilovey@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar